Pengertian Asersi Audit? Jenis, dan Contohnya

asersi audit adalah
Table of Contents

Asersi audit adalah pernyataan atau representasi manajemen mengenai informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Pernyataan ini menjadi salah satu dasar bagi auditor untuk menentukan apakah transaksi, saldo akun, serta penyajian dan pengungkapan dalam laporan keuangan sudah sesuai dan bebas dari salah saji material.

Sederhananya, ketika perusahaan menyajikan angka penjualan, persediaan, utang, atau aset dalam laporan keuangan, terdapat klaim bahwa informasi tersebut benar. Auditor kemudian menguji klaim tersebut dengan mengumpulkan bukti audit yang cukup dan tepat.

Pemahaman mengenai asersi audit adalah hal penting karena proses audit tidak dilakukan dengan memeriksa seluruh informasi secara acak. Auditor mengidentifikasi risiko, menentukan asersi yang relevan, lalu memilih prosedur audit yang sesuai. Kerangka ini juga sejalan dengan SA 315 yang digunakan dalam proses identifikasi dan penilaian risiko salah saji material.

Apa Itu Asersi Audit?

Secara sederhana, asersi audit adalah representasi yang dibuat manajemen mengenai pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan.

Ketika perusahaan mencatat persediaan sebesar Rp2 miliar, misalnya, manajemen secara tidak langsung menyatakan bahwa persediaan tersebut memang ada, menjadi hak perusahaan, dicatat secara lengkap, dan dinilai dengan jumlah yang sesuai.

Auditor kemudian tidak hanya melihat angka Rp2 miliar tersebut. Auditor akan mencari bukti untuk menjawab beberapa pertanyaan:

  • Apakah persediaan tersebut benar-benar ada?
  • Apakah seluruh persediaan sudah dicatat?
  • Apakah persediaan merupakan hak perusahaan?
  • Apakah nilainya sudah dihitung dengan tepat?
  • Apakah persediaan sudah disajikan dan diungkapkan secara sesuai?

Dengan demikian, asersi menjadi penghubung antara laporan keuangan, risiko audit, prosedur audit, dan bukti yang dikumpulkan auditor.

asersi audit adalah

Mengapa Asersi Audit Penting dalam Proses Audit?

Asersi penting karena membantu auditor melakukan pemeriksaan secara lebih terarah. Auditor tidak perlu memeriksa setiap transaksi dengan cara yang sama. Sebaliknya, auditor dapat menentukan area yang memiliki risiko salah saji lebih tinggi dan memilih prosedur yang sesuai.

Beberapa fungsi utama asersi dalam proses audit adalah:

1. Membantu mengidentifikasi risiko

Auditor menggunakan asersi untuk memahami bagian laporan keuangan yang berpotensi mengandung kesalahan atau kecurangan. Misalnya, pendapatan dapat memiliki risiko terkait keterjadian, akurasi, atau pisah batas.

2. Menentukan prosedur audit

Setiap asersi dapat membutuhkan prosedur pengujian yang berbeda. Untuk menguji keberadaan persediaan, auditor dapat melakukan observasi atau stock opname. Sementara itu, untuk menguji kelengkapan utang, auditor dapat menelusuri pembayaran setelah tanggal laporan.

3. Menghasilkan bukti audit yang relevan

Asersi membantu auditor menentukan bukti seperti apa yang diperlukan. Bukti tersebut kemudian digunakan untuk mendukung kesimpulan audit.

4. Mendukung opini auditor

Hasil pengujian terhadap berbagai asersi membantu auditor menilai apakah laporan keuangan secara keseluruhan mengandung salah saji material.

Jenis-Jenis Asersi Audit

Dalam kerangka SA 315 yang selaras dengan ISA 315, asersi dikelompokkan berdasarkan objek yang diuji. Secara umum, terdapat tiga kelompok utama, yaitu asersi atas transaksi dan peristiwa, asersi atas saldo akun, serta asersi atas penyajian dan pengungkapan.

Pengelompokan ini perlu diperhatikan karena beberapa referensi lama masih menggunakan pembagian lima asersi seperti keberadaan, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian, serta penyajian. Dalam penerapan standar yang lebih baru, asersi tersebut dipetakan berdasarkan objek auditnya.

Asersi tentang Transaksi dan Peristiwa

Asersi ini berkaitan dengan transaksi dan peristiwa yang terjadi selama periode pelaporan. Contohnya adalah penjualan, pembelian, pembayaran gaji, dan transaksi operasional lainnya.

Beberapa asersi yang termasuk dalam kelompok ini adalah:

1. Keterjadian (Occurrence)

Asersi keterjadian menguji apakah transaksi yang dicatat memang benar-benar terjadi dan berkaitan dengan perusahaan.

Contohnya, perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp500 juta. Auditor dapat memeriksa faktur, dokumen pengiriman, atau bukti transaksi untuk memastikan penjualan tersebut benar-benar terjadi.

2. Kelengkapan (Completeness)

Kelengkapan berkaitan dengan apakah seluruh transaksi yang seharusnya dicatat telah masuk dalam laporan keuangan.

Misalnya, perusahaan memiliki kewajiban pembelian yang sudah terjadi tetapi belum dicatat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan beban atau utang menjadi kurang saji.

3. Akurasi (Accuracy)

Akurasi memastikan transaksi dicatat dengan jumlah dan informasi yang benar.

Auditor dapat melakukan perhitungan ulang, memeriksa faktur, harga, kuantitas, pajak, maupun diskon untuk memastikan angka yang dicatat sesuai dengan transaksi sebenarnya.

4. Pisah Batas (Cut-off)

Pisah batas memastikan transaksi dicatat pada periode akuntansi yang tepat.

Sebagai contoh, penjualan yang terjadi pada 2 Januari tidak seharusnya dicatat sebagai penjualan 31 Desember hanya untuk meningkatkan pendapatan periode sebelumnya.

5. Klasifikasi (Classification)

Asersi ini memastikan transaksi dimasukkan ke akun yang sesuai.

Contohnya, pembelian aset tetap seharusnya tidak dicatat sebagai biaya operasional apabila memenuhi kriteria pengakuan aset.

Asersi tentang Saldo Akun

Asersi tentang saldo akun berhubungan dengan saldo aset, liabilitas, dan ekuitas pada akhir periode pelaporan. Contohnya adalah kas, piutang, persediaan, utang, dan aset tetap.

1. Keberadaan (Existence)

Keberadaan menguji apakah aset, liabilitas, atau saldo lain yang tercatat benar-benar ada pada tanggal pelaporan.

Untuk persediaan, misalnya, auditor dapat melakukan observasi fisik untuk memastikan barang yang tercatat memang tersedia.

2. Hak dan Kewajiban (Rights and Obligations)

Asersi ini memastikan perusahaan memang memiliki hak atas aset yang dicatat dan memiliki kewajiban atas liabilitas yang dilaporkan.

Auditor dapat memeriksa dokumen kepemilikan, kontrak pinjaman, perjanjian sewa, atau dokumen hukum lainnya.

3. Kelengkapan (Completeness)

Pada saldo akun, kelengkapan berarti seluruh aset, liabilitas, dan ekuitas yang seharusnya dicatat sudah masuk ke laporan keuangan.

Asersi ini sangat penting untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya utang atau kewajiban yang belum dicatat.

4. Akurasi, Penilaian, dan Alokasi

Asersi ini menilai apakah saldo akun telah dicatat dengan nilai yang tepat.

Misalnya, auditor dapat mengevaluasi apakah piutang telah dikurangi dengan cadangan kerugian piutang yang memadai atau apakah persediaan telah dinilai berdasarkan ketentuan akuntansi yang berlaku.

Baca Juga: Mengenal Tahapan Jasa Audit, Standar yang Digunakan, dan Manfaatnya

Asersi tentang Penyajian dan Pengungkapan

Laporan keuangan tidak hanya berisi angka. Ada pula catatan atas laporan keuangan dan informasi lain yang membantu pengguna memahami kondisi perusahaan.

Asersi penyajian dan pengungkapan memastikan informasi tersebut disajikan secara tepat, lengkap, akurat, dan mudah dipahami.

Beberapa hal yang diperhatikan antara lain:

  • Keterjadian serta hak dan kewajiban: informasi yang diungkapkan benar-benar terjadi dan berkaitan dengan perusahaan.
  • Kelengkapan: seluruh informasi yang diwajibkan sudah diungkapkan.
  • Klasifikasi dan keterpahaman: informasi ditempatkan dan dijelaskan secara jelas.
  • Akurasi dan penilaian: informasi serta jumlah yang diungkapkan sesuai dengan catatan pendukung.

Contohnya, transaksi dengan pihak berelasi atau kewajiban kontinjensi yang material perlu diungkapkan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

Contoh Asersi Audit dalam Laporan Keuangan

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana pada akun piutang usaha.

Misalnya, perusahaan mencatat piutang usaha sebesar Rp3 miliar. Auditor dapat menguji beberapa asersi berikut:

AsersiContoh Pengujian
KeberadaanMengirim konfirmasi kepada pelanggan
KelengkapanMenelusuri dokumen penjualan dan pengiriman
Hak dan kewajibanMemeriksa apakah piutang menjadi hak perusahaan
PenilaianMengevaluasi cadangan kerugian piutang
Pisah batasMemeriksa transaksi penjualan di sekitar akhir periode

Dari contoh tersebut terlihat bahwa satu akun dapat berkaitan dengan beberapa asersi sekaligus. Karena itu, auditor perlu menentukan asersi mana yang paling relevan berdasarkan risiko dan karakteristik akun yang diperiksa.

Bagaimana Auditor Menguji Asersi dalam Audit?

Setelah menentukan asersi yang relevan, auditor merancang prosedur untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. SA 500 menegaskan pentingnya bukti audit yang memadai sebagai dasar auditor dalam menarik kesimpulan.

Beberapa prosedur yang dapat digunakan antara lain:

1. Inspeksi

Auditor memeriksa dokumen atau catatan, seperti faktur, kontrak, bukti pembayaran, dan dokumen kepemilikan.

2. Observasi

Auditor mengamati secara langsung suatu proses atau kondisi. Contohnya adalah mengamati pelaksanaan stock opname.

3. Konfirmasi Eksternal

Auditor memperoleh informasi langsung dari pihak ketiga, seperti bank atau pelanggan, untuk menguji informasi tertentu.

4. Rekalkulasi

Auditor menghitung kembali angka yang terdapat dalam dokumen atau laporan untuk memastikan ketepatannya.

5. Prosedur Analitis

Auditor membandingkan data dan hubungan keuangan untuk menemukan pola atau perubahan yang tidak biasa.

Pemilihan prosedur tersebut bergantung pada asersi yang ingin diuji, risiko salah saji, karakteristik akun, serta bukti yang tersedia.

Hubungan Asersi Audit dengan Risiko Salah Saji Material

Asersi memiliki hubungan erat dengan risiko salah saji material. Auditor perlu mengidentifikasi risiko pada tingkat laporan keuangan dan tingkat asersi sebelum menentukan respons audit yang sesuai. Hal ini menjadi bagian penting dalam SA 315.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki persediaan dalam jumlah besar. Auditor mungkin mengidentifikasi risiko bahwa persediaan yang tercatat sebenarnya sudah rusak atau tidak dapat dijual sehingga nilainya terlalu tinggi.

Risiko tersebut berkaitan dengan asersi penilaian. Auditor kemudian dapat melakukan prosedur seperti memeriksa kondisi fisik persediaan, metode penilaian, dan perhitungan cadangan penurunan nilai.

Contoh lainnya adalah risiko adanya utang yang belum dicatat. Risiko ini berkaitan dengan asersi kelengkapan. Auditor dapat memeriksa pembayaran setelah tanggal laporan dan dokumen pemasok untuk mencari kewajiban yang belum dicatat.

Jadi, asersi membantu auditor menjawab pertanyaan penting: “Salah saji seperti apa yang mungkin terjadi, dan bagaimana cara membuktikannya?”

Informasi Unik tentang Asersi Audit

Ada beberapa hal menarik yang sering terlewat ketika membahas asersi audit.

Pertama, asersi sebenarnya berasal dari manajemen, bukan auditor. Ketika manajemen menyusun laporan keuangan, mereka secara implisit menyatakan bahwa informasi tersebut telah disajikan secara tepat. Auditor kemudian menguji pernyataan tersebut.

Kedua, satu akun dapat memiliki banyak asersi. Piutang, misalnya, tidak cukup hanya diuji apakah benar-benar ada. Auditor juga perlu mempertimbangkan kelengkapan, hak, penilaian, dan pisah batas.

Ketiga, keberadaan dan kelengkapan bekerja seperti dua arah yang berbeda. Keberadaan bertanya apakah sesuatu yang tercatat memang ada, sedangkan kelengkapan bertanya apakah sesuatu yang seharusnya tercatat sudah masuk. Perbedaan ini membantu auditor melihat risiko lebih saji dan kurang saji.

Keempat, angka yang benar belum tentu berarti laporan keuangan sudah memadai. Pengungkapan yang tidak lengkap atau klasifikasi yang keliru juga dapat membuat informasi keuangan menjadi menyesatkan. Karena itu, audit tidak hanya berfokus pada perhitungan angka, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disajikan.

Pastikan Proses Audit Perusahaan Berjalan Tepat Bersama EHS

Memahami asersi audit adalah langkah penting untuk mengetahui bagaimana auditor menilai keandalan laporan keuangan. Asersi membantu auditor mengidentifikasi risiko, menentukan prosedur pemeriksaan, mengumpulkan bukti, hingga menarik kesimpulan atas laporan keuangan.

Bagi perusahaan, pemahaman ini juga dapat membantu meningkatkan kualitas pencatatan, dokumentasi, pengendalian internal, dan kesiapan menghadapi proses audit.

Jika perusahaan ingin memastikan proses audit dan pengelolaan risiko berjalan lebih terstruktur, KAP Eddy Hutarso & Satria (EHS) dapat menjadi partner untuk mendukung kebutuhan perusahaan. Dengan proses yang tepat, perusahaan dapat lebih siap menghadapi risiko, menjaga kepatuhan, dan meningkatkan keandalan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga: Pengertian Lengkap Audit Keuangan dalam Keberlanjutan Bisnis

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.