Contoh TP Doc: Pengertian, Isi, dan Struktur Dokumen

contoh tp doc
Table of Contents

Menyusun contoh TP Doc bisa membantu perusahaan memahami seperti apa dokumen transfer pricing yang perlu disiapkan. Terutama bagi perusahaan yang melakukan transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa, TP Doc menjadi bagian penting dalam mendokumentasikan penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha.

Secara sederhana, contoh TP Doc dapat memberikan gambaran mengenai informasi perusahaan, transaksi afiliasi, analisis harga transfer, hingga data keuangan yang perlu dimasukkan ke dalam dokumen. Namun, isi dokumen tidak bisa dibuat dengan menyalin satu format untuk semua perusahaan karena kebutuhan dokumentasi dapat berbeda tergantung kondisi dan transaksi perusahaan.

Lalu, TP Doc adalah dokumen seperti apa? Apa saja isinya dan bagaimana struktur dokumen yang perlu disiapkan? Berikut penjelasannya.

Apa Itu TP Doc?

TP Doc atau Transfer Pricing Documentation adalah dokumentasi yang digunakan untuk menjelaskan penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha atau Arm’s Length Principle dalam transaksi yang dipengaruhi hubungan istimewa.

Dalam praktiknya, TP Doc membantu menjelaskan bagaimana perusahaan menentukan harga atau kondisi transaksi dengan pihak afiliasi agar dapat dibandingkan dengan kondisi transaksi yang dilakukan oleh pihak independen.

Ketentuan mengenai TP Doc di Indonesia saat ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 172 Tahun 2023 tentang Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi yang Dipengaruhi Hubungan Istimewa. PMK tersebut mencabut dan menggantikan PMK 213/PMK.03/2016.

Jadi, ketika membahas TP Doc adalah dokumen penentuan harga transfer, pembahasannya tidak hanya berkaitan dengan harga jual atau beli. Dokumentasi juga mencakup informasi mengenai grup usaha, kegiatan bisnis, transaksi afiliasi, analisis ekonomi, dan informasi keuangan yang relevan.

contoh tp doc

Mengapa Perusahaan Perlu Menyiapkan TP Doc?

TP Doc bukan sekadar dokumen administratif. Dokumentasi ini dapat membantu perusahaan menunjukkan dasar dan proses yang digunakan dalam menentukan harga transfer pada transaksi afiliasi.

Beberapa alasan perusahaan perlu menyiapkan TP Doc antara lain:

1. Mendokumentasikan transaksi afiliasi

Perusahaan yang melakukan transaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa perlu memiliki dokumentasi yang menjelaskan transaksi tersebut secara memadai.

Informasi ini dapat mencakup jenis transaksi, pihak yang terlibat, nilai transaksi, fungsi masing-masing pihak, hingga metode yang digunakan dalam menentukan harga transfer.

2. Menunjukkan penerapan prinsip kewajaran

TP Doc membantu perusahaan menjelaskan bahwa transaksi afiliasi telah dianalisis berdasarkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha.

Dokumen ini penting ketika perusahaan perlu menjelaskan dasar penentuan harga atau tingkat laba dalam suatu transaksi afiliasi kepada otoritas pajak.

3. Mendukung kepatuhan perpajakan

Kewajiban dokumentasi transfer pricing diatur berdasarkan kriteria tertentu. Karena itu, perusahaan perlu memahami apakah transaksi dan kondisi bisnisnya termasuk dalam pihak yang wajib menyelenggarakan dokumen penentuan harga transfer.

Master File dan Local File, apabila diwajibkan, harus tersedia paling lama empat bulan setelah akhir tahun pajak.

Baca Juga: Apa itu TP Doc? Kewajiban, dan Strategi Kepatuhan Transfer Pricing

Apa Saja Isi TP Doc?

Secara umum, isi TP Doc dibedakan berdasarkan jenis dokumennya. Dalam ketentuan transfer pricing, dokumentasi terdiri dari Master File, Local File, dan Country-by-Country Report (CbCR).

1. Master File

Master File atau dokumen induk berisi informasi mengenai grup usaha secara keseluruhan.

Beberapa informasi yang dapat terdapat di dalamnya meliputi:

  • Struktur dan bagan kepemilikan grup usaha.
  • Negara tempat anggota grup usaha beroperasi.
  • Kegiatan usaha grup.
  • Aset tidak berwujud yang dimiliki atau digunakan.
  • Aktivitas keuangan dan pembiayaan.
  • Laporan keuangan konsolidasi.

Master File memberikan gambaran mengenai posisi perusahaan dalam grup dan bagaimana aktivitas bisnis grup dijalankan.

2. Local File

Berbeda dengan Master File, Local File berfokus pada perusahaan lokal dan transaksi afiliasi yang dilakukannya.

Isi Local File dapat mencakup:

  • Identitas dan profil perusahaan.
  • Struktur organisasi dan kegiatan usaha.
  • Informasi mengenai transaksi afiliasi.
  • Informasi transaksi dengan pihak independen.
  • Analisis fungsi, aset, dan risiko.
  • Penerapan metode penentuan harga transfer.
  • Informasi keuangan yang relevan.
  • Kondisi atau peristiwa nonkeuangan yang dapat memengaruhi harga atau tingkat laba.

Dengan begitu, Local File membantu menjelaskan transaksi afiliasi dari sisi perusahaan yang berada di Indonesia.

3. Country-by-Country Report

Country-by-Country Report atau CbCR digunakan untuk memberikan gambaran mengenai alokasi penghasilan, laba, pajak yang telah dibayar, serta indikator aktivitas ekonomi grup usaha secara per negara.

Dokumen ini berkaitan dengan grup usaha multinasional yang memenuhi kriteria tertentu. Berbeda dengan Master File dan Local File yang tersedia paling lambat empat bulan setelah akhir tahun pajak, CbCR memiliki batas waktu penyediaan yang berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.

Jenis-Jenis Dokumen Transfer Pricing

Agar lebih mudah dipahami, berikut tiga jenis utama dokumen transfer pricing:

Jenis DokumenFokus Informasi
Master FileInformasi mengenai grup usaha secara keseluruhan
Local FileInformasi perusahaan lokal dan transaksi afiliasinya
CbCRInformasi grup usaha secara per negara

Direktorat Jenderal Pajak juga menjelaskan bahwa TP Docs mencakup Master File, Local File, dan CbCR sebagai komponen utama dokumentasi transfer pricing.

Tidak semua perusahaan otomatis harus membuat ketiganya. Kewajiban tersebut bergantung pada kondisi dan kriteria yang ditetapkan dalam peraturan.

Struktur TP Doc yang Perlu Disiapkan

Struktur TP Doc dapat berbeda tergantung jenis dokumen dan karakteristik perusahaan. Namun, gambaran sederhananya dapat disusun seperti berikut.

Struktur Master File

  1. Informasi umum grup usaha.
  2. Struktur organisasi dan kepemilikan.
  3. Kegiatan usaha grup.
  4. Aset tidak berwujud.
  5. Aktivitas keuangan dan pembiayaan.
  6. Laporan keuangan konsolidasi.
  7. Informasi terkait kebijakan transfer pricing grup.

Struktur Local File

  1. Identitas dan profil perusahaan.
  2. Struktur organisasi.
  3. Kegiatan dan strategi bisnis.
  4. Informasi transaksi afiliasi.
  5. Informasi transaksi dengan pihak independen.
  6. Analisis fungsi, aset, dan risiko.
  7. Pemilihan metode transfer pricing.
  8. Analisis kesebandingan.
  9. Informasi keuangan.
  10. Kesimpulan analisis transfer pricing.

Struktur tersebut sebaiknya disesuaikan dengan transaksi yang benar-benar dilakukan perusahaan, bukan hanya mengikuti contoh dokumen perusahaan lain.

Contoh TP Doc Perusahaan

Sebagai gambaran, misalnya PT ABC merupakan perusahaan Indonesia yang menjadi bagian dari grup usaha internasional. PT ABC melakukan pembelian barang dari perusahaan afiliasi di luar negeri.

Dalam contoh TP Doc perusahaan seperti ini, dokumentasi dapat menjelaskan:

  • Profil PT ABC dan grup usahanya.
  • Hubungan PT ABC dengan perusahaan afiliasi.
  • Jenis barang yang dibeli.
  • Nilai dan volume transaksi.
  • Ketentuan transaksi antara kedua perusahaan.
  • Fungsi yang dilakukan PT ABC.
  • Aset yang digunakan.
  • Risiko yang ditanggung masing-masing pihak.
  • Metode transfer pricing yang digunakan.
  • Data pembanding yang digunakan.
  • Analisis kewajaran harga atau margin.
  • Informasi keuangan yang mendukung analisis.

Sebagai contoh kewajiban, DDTC pernah menguraikan skenario PT ABC yang memiliki peredaran bruto di atas Rp50 miliar sehingga pada tahun berikutnya diwajibkan menyelenggarakan dokumen induk dan dokumen lokal. Skenario lain menunjukkan bahwa perusahaan dengan peredaran bruto di bawah Rp50 miliar tetap dapat memiliki kewajiban apabila terdapat transaksi afiliasi tertentu yang melewati batas nilai yang ditentukan.

Artinya, contoh TP Doc sebaiknya digunakan sebagai gambaran struktur dan informasi, bukan sebagai template yang langsung disalin tanpa menyesuaikan kondisi perusahaan.

Informasi yang Perlu Disiapkan untuk Membuat TP Doc

Sebelum mulai menyusun dokumen, perusahaan perlu mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan bisnis dan transaksi afiliasi.

Beberapa data yang biasanya dibutuhkan antara lain:

  • Profil dan legalitas perusahaan.
  • Struktur organisasi.
  • Struktur kepemilikan grup.
  • Profil perusahaan afiliasi.
  • Informasi kegiatan usaha.
  • Kontrak atau perjanjian transaksi.
  • Rincian transaksi afiliasi.
  • Data transaksi dengan pihak independen.
  • Laporan keuangan.
  • Data penjualan dan pembelian.
  • Informasi aset dan kewajiban.
  • Informasi fungsi, aset, dan risiko masing-masing pihak.
  • Kebijakan harga transfer.
  • Data pembanding yang relevan.

Hal yang perlu diperhatikan, dokumen penentuan harga transfer harus diselenggarakan berdasarkan data dan informasi yang tersedia ketika transaksi afiliasi dilakukan untuk Master File dan Local File. Sementara itu, CbCR menggunakan data dan informasi sampai dengan akhir tahun pajak.

Karena itu, dokumentasi sebaiknya tidak baru dipikirkan ketika perusahaan sudah diminta menyerahkannya.

Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Penyusunan TP Doc

Penyusunan TP Doc membutuhkan data yang cukup detail. Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari.

1. Hanya menggunakan template perusahaan lain

Setiap perusahaan memiliki model bisnis, transaksi, fungsi, aset, dan risiko yang berbeda. Menggunakan template tanpa melakukan penyesuaian dapat membuat isi dokumen tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya.

2. Tidak mencocokkan data dengan laporan keuangan

Informasi dalam TP Doc perlu konsisten dengan data keuangan dan transaksi perusahaan. Perbedaan angka antara dokumentasi dan laporan keuangan dapat menimbulkan pertanyaan ketika dokumen ditinjau.

3. Tidak menjelaskan transaksi secara detail

Mencantumkan nilai transaksi saja belum cukup. Perusahaan perlu menjelaskan pihak yang terlibat, jenis transaksi, fungsi masing-masing pihak, serta dasar pemilihan metode transfer pricing.

4. Mengabaikan batas waktu

Master File dan Local File harus tersedia paling lama empat bulan setelah akhir tahun pajak apabila perusahaan memang diwajibkan menyelenggarakannya.

5. Tidak memperhatikan ketentuan bahasa

Secara umum, TP Doc dibuat dalam Bahasa Indonesia. Jika Wajib Pajak memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing, terdapat ketentuan mengenai penggunaan bahasa asing beserta terjemahannya.

Dapatkan Bantuan Penyusunan TP Doc Bersama EHS

Menyusun dokumen TP Doc perusahaan membutuhkan pemahaman terhadap transaksi afiliasi, kondisi bisnis, data keuangan, hingga ketentuan transfer pricing yang berlaku. Karena itu, prosesnya perlu dilakukan secara teliti agar informasi yang dicantumkan benar-benar sesuai dengan kondisi perusahaan.

Dengan pendampingan yang tepat, perusahaan dapat lebih mudah mengidentifikasi informasi yang perlu disiapkan, memahami struktur dokumen, dan memastikan dokumentasi transfer pricing tersusun secara sistematis.

Butuh bantuan menyusun TP Doc untuk perusahaan Anda? HubungiKAP Eddy Hutarso & Satria (EHS)  dan konsultasikan kebutuhan transfer pricing perusahaan bersama tim yang berpengalaman.

Baca Juga: Apa Itu Manajemen Risiko Korporasi pada Perusahaan?

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.