8 Cara Buat Laporan Keuangan Perusahaan Paling Mudah

8 Cara Buat Laporan Keuangan Perusahaan Paling Mudah
Table of Contents

Menyusun laporan keuangan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi pengambilan keputusan bisnis yang tepat.

Artikel ini memandu Anda dari dasar hingga praktik terbaik, sesuai standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.

Definisi Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah dokumen formal yang merangkum kondisi finansial suatu perusahaan dalam periode tertentu, mencakup aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan arus kas. Dokumen ini disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum sehingga dapat dipahami dan dibandingkan oleh berbagai pemangku kepentingan.

Fungsinya melampaui sekadar catatan angka. Pemilik usaha, investor, kreditur, hingga otoritas pajak mengandalkan laporan keuangan untuk menilai kesehatan bisnis, menentukan kelayakan kredit, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Mengapa Laporan Keuangan Itu Krusial bagi Perusahaan?

Tanpa laporan keuangan yang akurat, perusahaan berjalan dengan visibilitas terbatas, ibarat mengemudi tanpa instrumen di dasbor. Keputusan ekspansi, efisiensi biaya, hingga negosiasi dengan investor semuanya bertumpu pada data finansial yang terstruktur dan dapat diverifikasi.

Dari sisi regulasi, perusahaan yang terdaftar dan berbadan hukum wajib menyampaikan laporan keuangan kepada otoritas terkait, termasuk Direktorat Jenderal Pajak dan, untuk perusahaan publik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepatuhan ini bukan hanya soal menghindari sanksi, tetapi juga membangun kredibilitas jangka panjang di mata mitra bisnis dan lembaga keuangan.

Mengenal Standar yang Mengatur Laporan Keuangan di Indonesia

Laporan keuangan di Indonesia tidak disusun secara sembarangan, melainkan mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Memahami standar yang tepat untuk skala bisnis Anda adalah langkah pertama sebelum mulai menyusun laporan.

1. PSAK dan Perannya dalam Penyusunan Laporan Keuangan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah kerangka acuan utama dalam penyusunan laporan keuangan di Indonesia, diterbitkan dan diperbarui oleh IAI sebagai adopsi dari standar internasional IFRS. PSAK mengatur bagaimana setiap komponen laporan keuangan harus diakui, diukur, disajikan, dan diungkapkan agar informasi yang dihasilkan relevan dan dapat dipercaya.

Peran PSAK sangat signifikan dalam konteks audit dan pertanggungjawaban publik. Perusahaan yang laporan keuangannya tidak sesuai PSAK berisiko mendapat opini audit bersyarat atau bahkan disclaimer, yang dapat mengguncang kepercayaan investor dan mitra bisnis.

2. Perbedaan PSAK Umum, PSAK ETAP, dan SAK EMKM

PSAK Umum berlaku untuk entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan, seperti perusahaan publik, perbankan, dan asuransi, dengan tingkat kompleksitas pengungkapan yang tinggi. PSAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) dirancang untuk perusahaan menengah yang tidak tercatat di bursa efek, menawarkan persyaratan yang lebih ringkas dibanding PSAK Umum.

SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah) adalah standar paling sederhana, ditujukan khusus untuk UMKM agar dapat menyusun laporan keuangan tanpa keahlian akuntansi mendalam. Memilih standar yang sesuai skala bisnis bukan hanya soal kemudahan, tetapi juga soal relevansi informasi yang dihasilkan bagi pengguna laporan.

Urutan Jenis Laporan Keuangan

Laporan keuangan lengkap terdiri dari lima komponen utama yang saling berkaitan dan harus disajikan secara berurutan. Kelima komponen itu adalah laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, neraca keuangan (laporan posisi keuangan), laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Urutan ini bukan sekadar konvensi. Laporan laba rugi menghasilkan angka laba bersih yang kemudian mengalir ke laporan perubahan ekuitas, yang kemudian membentuk saldo ekuitas di neraca. Laporan arus kas lalu menjelaskan bagaimana posisi kas neraca berubah sepanjang periode, sementara catatan atas laporan keuangan memberikan konteks kualitatif dan kuantitatif atas seluruh angka yang tersaji.

Baca Juga : Audit Laporan Keuangan Perusahaan Jasa: Fokus Revenue Recognition & Work-in-Progress

Bagaimana Alur Membuat Laporan Keuangan?

Menyusun laporan keuangan mengikuti siklus akuntansi yang sistematis, bukan proses yang bisa dilompat-lompat. Delapan langkah berikut memandu Anda dari transaksi pertama hingga neraca saldo akhir yang siap digunakan.

1. Mengumpulkan dan Mencatat Transaksi pada Jurnal

Setiap transaksi keuangan, sekecil apapun, harus didokumentasikan dengan bukti transaksi yang valid seperti faktur, kuitansi, nota, atau kontrak. Bukti ini kemudian dicatat dalam jurnal umum dengan format debit dan kredit sesuai prinsip double-entry bookkeeping.

Ketelitian di tahap ini menentukan akurasi seluruh laporan keuangan. Kesalahan pencatatan di jurnal akan merambat ke seluruh proses berikutnya dan mempersulit rekonsiliasi di kemudian hari, sehingga disiplin dokumentasi sejak awal adalah investasi waktu yang sepadan.

2. Membuat Dan Memposting Jurnal ke dalam Buku Besar

Setelah jurnal terisi, setiap entri dipindahkan (diposting) ke akun-akun yang relevan dalam buku besar. Buku besar adalah kumpulan akun individual, misalnya kas, piutang, utang usaha, dan modal, yang merangkum seluruh transaksi per akun secara kronologis.

Proses posting ini memudahkan Anda melihat saldo terkini setiap akun kapan saja. Buku besar yang rapi menjadi referensi utama saat menyusun neraca saldo dan mendeteksi anomali transaksi sebelum laporan akhir dibuat.

3. Membuat Dan Menyusun Laporan Keuangan Neraca Saldo

Neraca saldo (trial balance) adalah daftar semua akun beserta saldo debit dan kreditnya pada akhir periode. Tujuannya adalah memverifikasi bahwa total saldo debit sama dengan total saldo kredit sebagai indikasi awal bahwa tidak ada kesalahan posting.

Perlu dipahami bahwa neraca saldo yang seimbang bukan jaminan laporan bebas kesalahan. Kesalahan yang saling mengimbangi, seperti salah catat dua akun dengan jumlah sama, tetap tidak terdeteksi di tahap ini dan baru akan tampak saat dilakukan review lebih mendalam.

4. Kumpulkan Data untuk Membuat Jurnal Penyesuaian Pada Laporan Keuangan

Jurnal penyesuaian diperlukan untuk mengakui pendapatan dan beban yang belum tercatat namun sudah terjadi secara ekonomis pada periode tersebut. Contoh umum mencakup beban depresiasi aset tetap, pendapatan diterima di muka yang sudah menjadi hak, dan beban akrual yang belum dibayar.

Tanpa jurnal penyesuaian, laporan keuangan akan menyajikan gambaran yang tidak akurat tentang kinerja dan posisi keuangan perusahaan. Tahap ini adalah implementasi nyata dari prinsip akrual yang menjadi tulang punggung standar akuntansi modern.

5. Membuat Dan Menyusun Neraca Lajur

Neraca lajur (worksheet) adalah alat kerja opsional namun sangat membantu, berupa tabel berlajur banyak yang menggabungkan neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian, serta kolom laporan laba rugi dan neraca. Dokumen ini membantu akuntan memvisualisasikan alur angka sebelum laporan final dicetak.

Untuk perusahaan dengan volume transaksi besar, neraca lajur meminimalkan risiko salah hitung saat memindahkan angka antar laporan. Meskipun bersifat internal dan tidak wajib dilaporkan, neraca lajur adalah praktik standar yang umum digunakan oleh akuntan profesional di lapangan.

6. Membuat Laporan Keuangan

Di tahap inilah laporan keuangan formal disusun berdasarkan data yang sudah bersih dari seluruh proses sebelumnya. Urutannya mengikuti hierarki yang sudah dijelaskan sebelumnya: laba rugi terlebih dahulu, diikuti perubahan ekuitas, neraca, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Setiap laporan harus mencantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan periode pelaporan secara konsisten. Format penyajian harus mengikuti standar yang dipilih, apakah PSAK Umum, PSAK ETAP, atau SAK EMKM, agar laporan memenuhi syarat kelayakan untuk keperluan audit maupun pelaporan pajak.

7. Membuat Jurnal Penutupan

Jurnal penutupan adalah entri akhir periode yang menol-kan saldo akun sementara, yaitu pendapatan, beban, dan dividen, untuk mempersiapkan akun-akun tersebut menyambut periode akuntansi baru. Saldo akun sementara ini kemudian dipindahkan ke akun modal atau laba ditahan.

Proses ini penting untuk memastikan bahwa laporan laba rugi periode berikutnya hanya mencerminkan transaksi periode itu sendiri, bukan akumulasi dari periode-periode sebelumnya. Tanpa jurnal penutupan, laporan keuangan akan kehilangan sifat periodik yang menjadi prinsip dasarnya.

8. Membuat Neraca Saldo Setelah Penutupan

Neraca saldo setelah penutupan (post-closing trial balance) adalah verifikasi terakhir bahwa semua jurnal penutupan telah diposting dengan benar. Pada tahap ini, hanya akun permanen yang tersisa, yaitu aset, kewajiban, dan ekuitas, sementara akun sementara sudah bernilai nol.

Dokumen ini sekaligus menjadi titik awal saldo untuk periode akuntansi berikutnya. Dengan neraca saldo setelah penutupan yang bersih, siklus akuntansi baru dapat dimulai dari kondisi yang terverifikasi dan terdokumentasi dengan baik.

5 Tips Dalam Membuat Laporan Keuangan

Memahami langkah teknis saja tidak cukup jika praktik harian tidak mendukung kualitas data yang masuk ke dalam sistem. Lima tips berikut adalah prinsip kerja yang membedakan laporan keuangan yang sekadar ada dengan laporan yang benar-benar andal.

1. Gunakan Sistem Akrual

Basis akrual mengakui pendapatan saat diperoleh dan beban saat terjadi, terlepas dari kapan uang berpindah tangan. Pendekatan ini memberikan gambaran kinerja yang jauh lebih akurat dibanding basis kas, terutama untuk perusahaan dengan piutang dan utang usaha yang signifikan.

PSAK dan SAK ETAP mewajibkan penggunaan basis akrual untuk entitas yang masuk dalam cakupannya. Hanya SAK EMKM yang memberikan kelonggaran lebih besar, namun bahkan untuk UMKM pun, migrasi ke basis akrual direkomendasikan begitu skala bisnis mulai berkembang.

2. Catat Semua Pengeluaran & Pemasukan

Kebiasaan mencatat transaksi secara real-time, bukan menumpuknya untuk dicatat akhir bulan, adalah perbedaan antara pembukuan yang sehat dan pembukuan yang selalu mengejar ketertinggalan. Setiap transaksi tanpa terkecuali, termasuk pengeluaran kecil seperti ongkos parkir atau perlengkapan kantor, harus masuk ke dalam sistem pencatatan.

Celah kecil dalam pencatatan cenderung membesar seiring waktu dan sering kali baru terungkap saat rekonsiliasi bank dilakukan. Disiplin ini juga mempercepat proses audit karena setiap angka dalam laporan memiliki jejak dokumentasi yang jelas dan mudah ditelusuri.

3. Beri Penjelasan yang Detail

Catatan atas laporan keuangan bukan formalitas pelengkap, melainkan komponen yang memberikan konteks kritis atas angka-angka yang tersaji. Penjelasan yang detail tentang kebijakan akuntansi, asumsi estimasi, dan peristiwa signifikan membantu pembaca memahami laporan secara utuh.

Dalam proses due diligence investasi atau pengajuan kredit ke bank, kualitas catatan atas laporan keuangan sering kali menjadi faktor penentu. Investor dan analis keuangan profesional sangat mengandalkan bagian ini untuk menilai risiko tersembunyi yang tidak langsung terlihat dari angka utama.

4. Patuhi Tenggat Waktu

Laporan keuangan yang akurat tetapi terlambat dapat menimbulkan konsekuensi serius, mulai dari denda keterlambatan pelaporan pajak hingga hilangnya kepercayaan investor. Menetapkan jadwal penyusunan laporan jauh sebelum tenggat dan membaginya menjadi tahapan yang terkelola adalah strategi yang efektif.

Untuk perusahaan yang diwajibkan menyampaikan laporan tahunan ke OJK atau lembaga lain, keterlambatan bahkan dapat berujung pada sanksi administratif yang berdampak pada reputasi. Membangun rutinitas pelaporan bulanan atau kuartalan juga membantu memastikan data selalu siap saat laporan tahunan perlu disusun.

5. Gunakan Software Akuntansi Terbaik

Software akuntansi modern seperti yang tersedia di pasar Indonesia saat ini mampu mengotomasi sebagian besar langkah teknis dalam siklus akuntansi, dari pencatatan jurnal hingga pembuatan laporan keuangan otomatis. Ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga mengurangi risiko kesalahan manual yang kerap terjadi dalam pencatatan spreadsheet.

Pilih software yang mendukung standar akuntansi yang relevan untuk skala bisnis Anda dan memiliki fitur rekonsiliasi bank otomatis. Investasi dalam software akuntansi yang tepat umumnya terbayar dalam waktu singkat melalui penghematan waktu akuntan dan peningkatan akurasi data yang dihasilkan.

Persiapkan Data Sebelum Menyusun Laporan Keuangan Perusahaan

Sebelum memulai satu pun langkah dalam siklus akuntansi, pastikan seluruh bukti transaksi periode berjalan sudah terkumpul, terverifikasi, dan terorganisir dengan baik. Data yang lengkap sejak awal adalah pra-syarat laporan keuangan yang akurat, bukan sesuatu yang bisa dikejar belakangan.

Laporan keuangan yang baik adalah cerminan tata kelola bisnis yang sehat. Dengan memahami standar yang berlaku, mengikuti alur penyusunan yang benar, dan menerapkan praktik terbaik dalam pencatatan sehari-hari, perusahaan Anda akan memiliki laporan keuangan yang tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi tetapi juga menjadi instrumen strategis yang mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Jika Anda baru memulai atau merasa perlu panduan lebih lanjut, konsultasi dengan akuntan publik bersertifikat adalah langkah yang sangat dianjurkan sebelum menyajikan laporan untuk keperluan eksternal.

Baca Juga : Audit Laporan Keuangan Perusahaan Real Estate: Fokus Valuasi, Revenue Proyek & Liabilitas Kontinjensi

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.