Dalam akuntansi, perbedaan cash basis dan accrual basis terletak pada waktu perusahaan mengakui transaksi keuangan. Memahami perbedaan cash basis dan accrual basis penting karena metode pencatatan yang digunakan dapat memengaruhi cara perusahaan melihat pendapatan, beban, laba, hingga kondisi keuangannya. Lalu, apa saja perbedaan cash basis dan accrual basis dalam akuntansi dan mana yang lebih tepat untuk bisnis?
Secara sederhana, cash basis mencatat transaksi ketika kas benar-benar diterima atau dibayarkan. Sementara itu, accrual basis mencatat transaksi ketika pendapatan diperoleh atau beban terjadi, meskipun uangnya belum diterima atau dibayarkan. Keduanya memiliki karakteristik dan penggunaan yang berbeda. Yuk, pahami selengkapnya.
Apa Itu Cash Basis?
Cash basis adalah metode pencatatan akuntansi yang mengakui pendapatan ketika perusahaan menerima pembayaran dan mencatat beban ketika perusahaan melakukan pembayaran.
Artinya, fokus utama cash basis adalah arus kas yang benar-benar masuk dan keluar. Jika perusahaan sudah memberikan jasa tetapi pelanggan belum membayar, transaksi tersebut belum dicatat sebagai pendapatan. Begitu juga dengan beban yang belum dibayarkan.
Misalnya, perusahaan menyelesaikan pekerjaan pada 10 Agustus, tetapi pelanggan baru membayar pada 25 Agustus. Dengan cash basis, pendapatan baru dicatat pada 25 Agustus ketika pembayaran diterima.
Metode ini relatif sederhana karena pencatatannya mengikuti pergerakan kas. Karena itu, cash basis dapat lebih mudah diterapkan pada bisnis dengan transaksi yang sederhana dan sebagian besar pembayaran dilakukan secara langsung.
Karakteristik Cash Basis
Beberapa karakteristik cash basis antara lain:
- Pendapatan dicatat ketika kas diterima.
- Beban dicatat ketika kas dibayarkan.
- Fokus pencatatan berada pada arus kas aktual.
- Piutang dan utang tidak langsung diakui sebelum terjadi penerimaan atau pembayaran.
- Sistem pembukuan relatif lebih sederhana.

Apa Itu Accrual Basis?
Accrual basis adalah metode akuntansi yang mengakui pendapatan dan beban ketika transaksi terjadi atau hak dan kewajiban telah muncul, bukan hanya ketika kas berpindah.
Misalnya, perusahaan menyelesaikan pekerjaan senilai Rp10 juta pada Agustus dan pelanggan baru membayar pada September. Dengan accrual basis, pendapatan Rp10 juta dapat dicatat pada Agustus karena pekerjaan telah selesai dan perusahaan memiliki hak untuk menerima pembayaran.
Hal yang sama berlaku untuk beban. Jika perusahaan sudah menerima barang atau jasa dari pemasok, tetapi pembayarannya baru dilakukan bulan berikutnya, beban dapat diakui pada periode ketika barang atau jasa tersebut diterima.
Dengan pendekatan ini, accrual basis dapat memberikan gambaran aktivitas bisnis yang lebih lengkap karena transaksi tetap dicatat meskipun belum terjadi penerimaan atau pembayaran kas.
Karakteristik Accrual Basis
Karakteristik accrual basis meliputi:
- Pendapatan diakui ketika diperoleh.
- Beban diakui ketika terjadi atau kewajiban muncul.
- Transaksi tetap dicatat meskipun kas belum diterima atau dibayarkan.
- Piutang dan utang dapat tercermin dalam laporan keuangan.
- Pencatatan membutuhkan sistem pembukuan yang lebih terstruktur.
Baca Juga: Pengertian Lengkap Audit Internal, Kunci Kelola Perusahaan
Perbedaan Cash Basis dan Accrual Basis
Setelah memahami pengertiannya, perbedaan cash basis dan accrual basis dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.
1. Waktu Pencatatan Transaksi
Pada cash basis, transaksi dicatat ketika kas benar-benar diterima atau dibayarkan. Sementara itu, accrual basis mencatat transaksi ketika aktivitas ekonomi terjadi atau hak dan kewajiban perusahaan muncul.
Contohnya, perusahaan menyelesaikan proyek pada Agustus dan baru menerima pembayaran pada September. Cash basis mencatat pendapatan pada September, sedangkan accrual basis mencatat pendapatan pada Agustus.
2. Pengakuan Pendapatan
Cash basis mengakui pendapatan ketika pembayaran diterima. Jadi, pekerjaan yang sudah selesai tetapi belum dibayar pelanggan belum menjadi pendapatan dalam pencatatan cash basis.
Pada accrual basis, pendapatan diakui ketika perusahaan telah memenuhi kewajibannya untuk memberikan barang atau jasa dan memperoleh hak atas pembayaran.
3. Pengakuan Beban
Cash basis mencatat beban ketika perusahaan melakukan pembayaran.
Sebaliknya, accrual basis mengakui beban ketika barang atau jasa telah diterima atau kewajiban pembayaran muncul. Dengan demikian, beban dicatat pada periode yang berkaitan dengan aktivitas bisnis tersebut.
4. Pengaruh terhadap Laporan Keuangan
Cash basis dapat memberikan gambaran yang mudah mengenai posisi kas karena transaksi dicatat berdasarkan uang yang masuk dan keluar. Namun, metode ini belum tentu menunjukkan seluruh piutang dan kewajiban yang dimiliki perusahaan.
Accrual basis memberikan gambaran yang lebih menyeluruh karena pendapatan dan beban dicatat pada periode terjadinya transaksi. Perusahaan juga dapat melihat piutang dan utang yang masih berjalan.
| Aspek | Cash Basis | Accrual Basis |
| Waktu pencatatan | Saat kas diterima/dibayar | Saat transaksi terjadi |
| Pendapatan | Saat pembayaran diterima | Saat pendapatan diperoleh |
| Beban | Saat pembayaran dilakukan | Saat beban terjadi |
| Piutang & utang | Tidak langsung tercatat | Dapat tercatat |
| Pencatatan | Lebih sederhana | Lebih kompleks |
Contoh Cash Basis dan Accrual Basis
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, berikut contoh cash basis dan accrual basis dalam transaksi bisnis.
PT Maju Jaya menyelesaikan proyek desain senilai Rp15 juta pada 20 Agustus. Berdasarkan kesepakatan, pelanggan baru membayar pada 20 September.
Jika Menggunakan Cash Basis
Pada Agustus, perusahaan belum mencatat Rp15 juta sebagai pendapatan karena belum menerima pembayaran.
Ketika uang masuk pada 20 September, perusahaan baru mencatat Rp15 juta sebagai pendapatan.
Agustus: belum mencatat pendapatan
September: mencatat pendapatan Rp15 juta
Jika Menggunakan Accrual Basis
Pada Agustus, perusahaan mencatat pendapatan Rp15 juta karena proyek sudah selesai dan perusahaan telah memperoleh hak atas pembayaran.
Pada tahap ini, transaksi dapat dicatat sebagai pendapatan dan piutang. Ketika pelanggan membayar pada September, piutang berkurang dan kas bertambah.
Agustus: pendapatan dan piutang Rp15 juta dicatat
September: pembayaran diterima dan piutang berkurang
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa transaksi yang sama dapat dicatat pada periode berbeda tergantung metode akuntansi yang digunakan.
Kelebihan dan Kekurangan Cash Basis
Cash basis memiliki kelebihan dari sisi kemudahan, tetapi juga memiliki keterbatasan ketika transaksi perusahaan semakin kompleks.
Kelebihan Cash Basis
- Sederhana, karena pencatatan mengikuti penerimaan dan pembayaran kas.
- Mudah dipahami, terutama bagi bisnis yang baru menerapkan pembukuan.
- Mudah memantau kas, karena transaksi yang dicatat memang berkaitan dengan uang yang sudah diterima atau dibayarkan.
- Administrasi relatif ringan, karena tidak membutuhkan banyak pencatatan transaksi akrual.
Kekurangan Cash Basis
- Tidak langsung menunjukkan piutang yang belum dibayar.
- Kewajiban yang belum dibayar juga tidak tergambar secara lengkap.
- Pendapatan dan beban dapat terlihat tidak seimbang antarperiode.
- Kurang menggambarkan kondisi bisnis secara menyeluruh ketika transaksi kredit semakin banyak.
Kelebihan dan Kekurangan Accrual Basis
Accrual basis dapat memberikan informasi keuangan yang lebih lengkap, tetapi penerapannya membutuhkan pencatatan yang lebih detail.
Kelebihan Accrual Basis
- Memberikan gambaran kinerja yang lebih lengkap, karena pendapatan dan beban dicatat pada periode terjadinya.
- Memudahkan analisis laba rugi, tanpa terlalu dipengaruhi waktu penerimaan atau pembayaran kas.
- Memantau piutang dan utang, sehingga perusahaan dapat mengetahui hak dan kewajiban yang masih berjalan.
- Mendukung pengambilan keputusan, karena informasi transaksi yang tersedia lebih menyeluruh.
Kekurangan Accrual Basis
- Membutuhkan proses pembukuan yang lebih detail.
- Lebih kompleks dibandingkan cash basis.
- Perusahaan perlu melakukan pemantauan piutang, utang, dan transaksi akrual secara berkala.
- Laba yang tercatat belum tentu menunjukkan jumlah kas yang tersedia.
Karena itu, perusahaan yang menggunakan accrual basis tetap perlu memperhatikan arus kas agar kondisi likuiditas bisnis dapat dipantau dengan baik.
Mana yang Lebih Tepat untuk Perusahaan?
Tidak ada satu metode yang otomatis paling tepat untuk semua perusahaan. Pemilihannya perlu disesuaikan dengan skala usaha, jenis transaksi, kebutuhan laporan keuangan, serta standar dan ketentuan yang berlaku.
Cash basis dapat menjadi pilihan yang praktis untuk bisnis dengan transaksi sederhana dan pembayaran yang sebagian besar dilakukan secara langsung. Metode ini membantu pemilik usaha melihat posisi kas dengan lebih mudah.
Sementara itu, accrual basis lebih relevan untuk perusahaan yang memiliki transaksi kredit, piutang, utang, persediaan, kontrak, atau aktivitas bisnis yang lebih kompleks. Dengan mencatat transaksi pada periode terjadinya, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kinerja bisnis.
Dapatkan Solusi Akuntansi Perusahaan Bersama EHS
Memahami perbedaan cash basis dan accrual basis membantu perusahaan menentukan metode pencatatan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Cash basis menawarkan pencatatan yang lebih sederhana dan berfokus pada arus kas, sedangkan accrual basis memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai pendapatan, beban, piutang, dan kewajiban.
Ketika bisnis berkembang, jumlah transaksi dan kebutuhan pengelolaan keuangan juga ikut meningkat. Karena itu, perusahaan membutuhkan sistem yang dapat membantu pencatatan transaksi dan pengelolaan keuangan secara lebih rapi dan terstruktur.
KAP Eddy Hutarso & Satria (EHS) hadir untuk membantu perusahaan anda mengelola jasa akuntansi dan keuangan dengan lebih praktis. Kelola transaksi dan laporan keuangan bisnis secara lebih terintegrasi bersama EHS.
Baca Juga: Cara Membuat Neraca Aktiva dan Pasiva dengan Mudah untuk Bisnis Anda





