Dalam menjalankan bisnis, perusahaan biasanya memiliki berbagai aset tetap seperti kendaraan, mesin, gedung, komputer, hingga peralatan kantor. Seiring waktu, aset tersebut dapat mengalami penurunan manfaat atau nilai karena digunakan dalam kegiatan operasional. Kondisi ini dalam akuntansi dikenal sebagai penyusutan aset.
Apa itu penyusutan aset? Secara sederhana, penyusutan aset adalah proses mengalokasikan biaya perolehan suatu aset tetap selama masa manfaatnya. Penyusutan perlu dicatat agar nilai aset dalam laporan keuangan mencerminkan kondisi dan manfaat ekonominya secara lebih wajar.
Lantas, bagaimana cara menghitungnya? Ada beberapa metode penyusutan aset yang dapat digunakan perusahaan, tergantung pada karakteristik dan pola pemakaian aset. Yuk, pahami pengertian, jenis, metode, hingga contoh perhitungannya berikut ini.
Apa Itu Penyusutan Aset?
Penyusutan aset adalah proses pengalokasian biaya perolehan aset tetap secara sistematis selama masa manfaat aset tersebut. Dalam praktik akuntansi, penyusutan biasanya diterapkan pada aset berwujud yang digunakan untuk kegiatan operasional dan memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Penyusutan bukan berarti perusahaan benar-benar mengeluarkan uang setiap kali mencatat beban penyusutan. Sebaliknya, penyusutan merupakan proses akuntansi untuk membebankan biaya perolehan aset secara bertahap sesuai periode ketika aset memberikan manfaat.
Sebagai contoh, perusahaan membeli mesin seharga Rp100 juta dan memperkirakan mesin tersebut dapat digunakan selama lima tahun. Biaya Rp100 juta tersebut tidak selalu langsung dibebankan seluruhnya pada tahun pembelian. Biaya tersebut dapat dialokasikan selama masa manfaat mesin melalui penyusutan.
Dalam menentukan penyusutan, beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain:
- Harga perolehan, yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menyiapkan aset hingga siap digunakan.
- Nilai residu, yaitu perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya.
- Masa manfaat, yaitu periode ketika aset diperkirakan masih dapat memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan.

Mengapa Aset Tetap Mengalami Penyusutan?
Aset tetap mengalami penyusutan karena manfaat ekonomisnya dapat berkurang seiring waktu. Penurunan tersebut tidak selalu disebabkan oleh penggunaan secara langsung, tetapi dapat dipengaruhi berbagai faktor.
Beberapa penyebab umum penyusutan aset antara lain:
1. Penggunaan dalam kegiatan operasional
Semakin sering digunakan, kondisi fisik aset dapat mengalami penurunan. Contohnya kendaraan operasional yang digunakan setiap hari atau mesin produksi yang bekerja selama berjam-jam.
2. Faktor waktu
Beberapa aset mengalami penurunan manfaat hanya karena bertambahnya usia. Peralatan tertentu, misalnya, dapat menjadi kurang relevan meskipun masih dapat digunakan secara fisik.
3. Keusangan teknologi
Perkembangan teknologi juga dapat membuat suatu aset menjadi kurang bermanfaat. Komputer atau perangkat elektronik merupakan contoh aset yang dapat mengalami keusangan teknologi dengan cepat.
4. Faktor fisik dan lingkungan
Kondisi seperti kelembapan, cuaca, korosi, atau kerusakan juga dapat memengaruhi masa manfaat aset.
Dengan mencatat penyusutan secara tepat, perusahaan dapat menggambarkan penggunaan manfaat aset tersebut dalam laporan keuangan secara lebih sistematis.
Baca Juga: Pengertian Lengkap Audit Internal, Kunci Kelola Perusahaan
Jenis Aset yang Dapat Disusutkan
Tidak semua aset perusahaan harus disusutkan. Pada umumnya, penyusutan diterapkan pada aset tetap berwujud yang memiliki masa manfaat terbatas.
Contoh aset yang umumnya dapat disusutkan meliputi:
- Kendaraan operasional
- Mesin produksi
- Komputer dan perangkat elektronik
- Peralatan kantor
- Perabot dan perlengkapan
- Bangunan atau gedung
Sementara itu, tanah pada umumnya tidak disusutkan karena memiliki masa manfaat yang tidak terbatas. Namun, perlakuan akuntansi terhadap aset tetap tetap perlu disesuaikan dengan standar akuntansi dan karakteristik masing-masing aset.
Metode Penyusutan Aset
Setelah memahami apa itu penyusutan aset, langkah berikutnya adalah menentukan metode yang tepat. Metode penyusutan aset digunakan untuk menentukan bagaimana biaya aset dialokasikan selama masa manfaatnya.
Tiga metode yang umum digunakan adalah metode garis lurus, saldo menurun, dan unit produksi.
1. Metode Garis Lurus
Metode garis lurus merupakan salah satu metode penyusutan yang paling sederhana. Beban penyusutan dibagi secara sama besar selama masa manfaat aset.
Rumusnya:
Beban penyusutan per tahun = (Harga Perolehan – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
Metode ini cocok digunakan ketika manfaat aset diperkirakan relatif sama dari tahun ke tahun.
2. Metode Saldo Menurun
Metode saldo menurun menghasilkan beban penyusutan yang lebih besar pada periode awal dan semakin kecil pada periode berikutnya.
Metode ini dapat digunakan ketika aset diperkirakan memberikan manfaat atau mengalami penurunan nilai yang lebih besar pada awal masa penggunaannya.
Perhitungan metode saldo menurun umumnya menggunakan persentase tertentu dari nilai buku aset pada awal periode.
3. Metode Unit Produksi
Metode unit produksi menghitung penyusutan berdasarkan tingkat penggunaan atau jumlah unit yang dihasilkan oleh aset.
Metode ini dapat digunakan untuk aset yang manfaatnya lebih berkaitan dengan tingkat produksi atau pemakaian dibandingkan berlalunya waktu.
Rumus sederhananya:
Beban penyusutan per unit = (Harga Perolehan – Nilai Residu) ÷ Total Estimasi Unit Produksi
Selanjutnya, beban penyusutan periode berjalan dihitung berdasarkan jumlah unit yang benar-benar diproduksi atau digunakan.
Cara Menghitung Penyusutan Aset
Untuk mengetahui cara menghitung penyusutan aset, perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu beberapa informasi dasar, yaitu harga perolehan, nilai residu, dan masa manfaat aset.
Secara umum, langkahnya sebagai berikut:
- Tentukan harga perolehan aset.
- Tentukan nilai residu aset pada akhir masa manfaat.
- Tentukan estimasi masa manfaat aset.
- Pilih metode penyusutan yang sesuai.
- Hitung beban penyusutan berdasarkan metode yang dipilih.
- Catat beban penyusutan secara berkala dalam pembukuan.
Misalnya, sebuah perusahaan membeli kendaraan operasional dengan harga Rp150 juta. Kendaraan tersebut diperkirakan memiliki nilai residu Rp30 juta dan masa manfaat lima tahun.
Jika perusahaan menggunakan metode garis lurus, maka:
Penyusutan = (Rp150 juta – Rp30 juta) ÷ 5
Penyusutan = Rp24 juta per tahun
Artinya, perusahaan mencatat beban penyusutan sebesar Rp24 juta setiap tahun selama masa manfaat aset, dengan asumsi tidak ada perubahan pada estimasi tersebut.
Contoh Perhitungan Penyusutan Aset
Agar lebih mudah memahami contoh penyusutan aset, perhatikan ilustrasi berikut.
PT Maju Jaya membeli mesin produksi seharga Rp200 juta. Mesin tersebut diperkirakan dapat digunakan selama 5 tahun dan memiliki nilai residu sebesar Rp20 juta.
Jika menggunakan metode garis lurus, perhitungannya adalah:
Beban penyusutan = (Harga Perolehan – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
= (Rp200 juta – Rp20 juta) ÷ 5
= Rp36 juta per tahun
Dengan demikian, perusahaan mencatat beban penyusutan sebesar Rp36 juta setiap tahun.
| Tahun | Beban Penyusutan | Nilai Buku Akhir |
| Tahun 1 | Rp36 juta | Rp164 juta |
| Tahun 2 | Rp36 juta | Rp128 juta |
| Tahun 3 | Rp36 juta | Rp92 juta |
| Tahun 4 | Rp36 juta | Rp56 juta |
| Tahun 5 | Rp36 juta | Rp20 juta |
Dari tabel tersebut, nilai buku mesin berkurang secara bertahap hingga mencapai nilai residu sebesar Rp20 juta pada akhir masa manfaat.
Perlu diperhatikan bahwa contoh tersebut menggunakan metode garis lurus untuk mempermudah pemahaman. Jika perusahaan menggunakan metode saldo menurun atau unit produksi, hasil beban penyusutannya dapat berbeda.
Pengaruh Penyusutan terhadap Laporan Keuangan dan Pajak
Penyusutan tidak hanya berkaitan dengan nilai aset, tetapi juga memengaruhi laporan keuangan perusahaan.
Dalam laporan laba rugi, beban penyusutan dicatat sebagai beban sehingga dapat mengurangi laba perusahaan pada periode berjalan. Sementara itu, dalam neraca atau laporan posisi keuangan, akumulasi penyusutan mengurangi nilai tercatat aset tetap.
Secara sederhana, hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Harga Perolehan Aset – Akumulasi Penyusutan = Nilai Buku Aset
Penyusutan juga dapat berkaitan dengan perhitungan pajak. Namun, metode dan masa manfaat untuk tujuan akuntansi tidak selalu sama dengan ketentuan yang berlaku untuk tujuan perpajakan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperhatikan ketentuan perpajakan yang berlaku ketika menghitung penyusutan untuk kebutuhan pajak.
Pencatatan yang tepat penting agar perusahaan dapat membedakan antara penyusutan berdasarkan laporan keuangan dan penyusutan yang digunakan dalam perhitungan pajak.
Kelola Akuntansi dan Keuangan Perusahaan Bersama EHS
Memahami apa itu penyusutan aset merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan akuntansi perusahaan. Dengan pencatatan penyusutan yang tepat, perusahaan dapat mengetahui nilai buku aset, mengukur beban operasional dengan lebih akurat, serta menyusun laporan keuangan secara lebih terstruktur.
Namun, semakin banyak aset yang dimiliki, semakin kompleks pula proses pencatatannya. Mulai dari mencatat harga perolehan, menentukan masa manfaat, menghitung penyusutan, hingga memantau nilai buku setiap aset.
KAP Eddy Hutarso & Satria (EHS) dapat membantu perusahaan mengelola proses akuntansi dan keuangan secara lebih praktis dan terintegrasi. Dengan sistem pengelolaan yang tepat, pencatatan transaksi dan aset perusahaan dapat dilakukan dengan lebih efisien sehingga tim dapat lebih fokus pada pengembangan bisnis.
Kelola pencatatan aset dan keuangan perusahaan dengan lebih mudah bersama jasa akuntansi terpercaya EHS.
Baca Juga: 10 Tahap Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa yang Wajib Diketahui





